Ketika “Manusia Kardus” Jadi Content Creator, Banyak Pengikut dan Dianggap Sukses, Kok Bisa? Ini Penjelasannya

Kolase foto manusia kardus dan oknum content creator | Ilustrasi 

Manusia Kardus dalam konteks ini menurut penulis adalah sosok yang sok hebat, sok paham dan penuh dengan kesombongan padahal sebenarnya adalah manusia pembohong. Kecongkakan dan kesombongan yang dibalut kebohongannya mengubahnya menjadi sosok manusia tanpa rasa kasih kemanusiaan asal mendapat pujian dari orang orang yang serupa dengannya.

Dalam situasi saat ini, media sosial telah mengubah mindset sebahagiaan orang tentang popularitas, nilai, dan pengaruh. Terkadang demi itu semua, karakter alami dalam dirinya bisa berubah hanya karena konten yang belum tentu diketahui kebenarannya.

Fenomena yang sering menimbulkan perdebatan adalah munculnya content creator yang dianggap sebagai “Manusia Kardus”, namun justru memiliki jutaan pengikut. 

Istilah ini tentu mungkin bernuasa negatif, Kendati demikian, faktanya justru memperlihatkan, bahwa popularitas di media sosial tidak selalu sejalan dengan standar moral, pendidikan, atau kontribusi sosial yang ideal.

Algoritma Medsos tidak kenal namanya Moral

Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube bekerja berdasarkan algoritma yang mengutamakan interaksi, bukan kualitas moral atau edukatif. 

Konten yang memancing emosi (marah), tertawa, terkejut, atau kontroversi cenderung lebih sering muncul di beranda. Akibatnya, konten yang dianggap “rendah” atau tidak bermutu justru jadi viral lantaran diwarnai dengan komentar netizen bahkan menjadi status yang dibagikan.

Konten Alai dan Aneh Lebih Mudah Viral

Perlu diketahui, manusia secara alami tertarik pada hal yang ekstrem dan sensasional. Perilaku aneh (lain dari lain), ucapan kasar, drama dan kemunafikan, atau barangkali konflik acap kali lebih menarik perhatian dibandingkan konten edukatif yang santai dan mengedukasi. 

Para content creator yang dicap negatif sering kali sadar akan hal ini dan sengaja membangun persona kontroversial demi popularitas. Dan inilah yang terjadi saat ini. 

Fakta Semu Dalam Dunia Sosial

Sebagian pengikut merasa konten tersebut “relate” dengan kehidupan sehari-hari. Bahasa kasar, gaya hidup sederhana, atau perilaku yang dianggap tidak beretika oleh kalangan tertentu justru mencerminkan realitas sebagian masyarakat. Hal ini mungkin saja membuat penonton merasa dekat dan terwakili, meskipun secara nilai sosial dipandang buruk.

Minim atau memang tidak paham literasi digital

Rendahnya literasi digital membuat banyak pengguna media sosial sulit membedakan antara konten berkualitas dan konten sensasional. Selama konten tersebut menghibur, banyak orang tetap menonton tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjangnya. Inilah yang memperkuat dan memperluas jajahannya sehingga mengangkat popularitas content creator dengan konten negatif.

Supaya “Viral"

Di masyarakat modern, viral sering kali dianggap sebagai bentuk kesuksesan. Tidak peduli bagaimana caranya, selama terkenal dan menghasilkan uang, maka dianggap berhasil. Pola pikir ini mendorong munculnya content creator yang menghalalkan segala cara demi perhatian publik.

Yang penting dapat uang (fulus)

Media sosial saat ini dikuasai oleh ekonomi perhatian, di mana perhatian publik dapat dikonversi menjadi uang melalui iklan, endorsement, dan donasi. Selama seseorang mampu menarik perhatian dalam jumlah besar, label negatif tidak lagi menjadi penghalang untuk meraih keuntungan finansial. Faktanya, konsep ini lebih mirip kepada pelacuran, meski seorang pelacur terkadang jijik menjajakan diri karena merasa gamang di media sosial.

Fenomena ini sesungguhnya bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari sistem media sosial, budaya viral, dan perilaku oknum itu sendiri. 

Alih-alih hanya menyalahkan individu, saat ini yang perlu bagi masyarakat untuk meningkatkan literasi digital dan lebih selektif dalam mengonsumsi serta mendukung konten. Karena, kualitas media sosial sangat ditentukan oleh kualitas penontonnya. 

Oleh: Royke

Komentar Anda

To be published, comments must be reviewed by the administrator *

Lebih baru Lebih lama
Post ADS 1
Post ADS 1